Termasuk warisan ulama ahlussunnah wal jama’ah didalam bidang aqidah adalah kitab aqidah thahawiyyah, yang ditulis oleh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salaamah bin Sallamah bin Abdul Malik Al-Azdi Al-Hajari Al-Mishri Ath-Thahawi Al-Hanafi (tahun 237-321H). banyak sekali ulama yang memberikan penjelasan terhadap kitab ini diantaranya adalah syaikh muhammad aman al jami rahimahullah, beliau menjelaskan dengan penjelasan yang gamblang..mengatakan yang haq adalah haq…dan bathil adalah bathil,
Keutamaan Ilmu Syar’i
Dalam HOME di Desember 13, 2008 pada 7:28 pmOleh : Al-Ustadz Abdurrahman Mubarok
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji ilmu dan orang berilmu, serta menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk membekali diri mereka dengan ilmu. Bahkan setiap muslim telah diwajibkan oleh Allah untuk mempelajari ilmu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata:
“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim”. (Shahihul Jami’ 3913)
Menuntut ilmu adalah amalan shalih yang paling afdhal dan termasuk amalan jihad fisabilillah karena tegaknya agama Allah adalah dengan dua perkara:
1. Ilmu
2. Senjata dan peperangan
Dua perkara ini haruslah ada, tidak mungkin agama Allah akan menang kecuali dengan dua perkara ini.
KEUTAMAAN ILMU DALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH
Allah dan RasulNya telah menerangkan keutamaan ilmu, orang berilmu serta orang yang mempelajarinya, diantara keutamaan ilmu:
1. Allah akan mengangkat derajat orang berilmu
“Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS.Al Mujadalah:11)
2. Ilmu adalah warisan para Nabi
Rasulullah berkata:
“Ilmu adalah warisan para Nabi, para Nabi tidaklah mewariskan emas ataupun dirham, akan tetapi mewariskan ilmu, barang siapa yang mengambilnya maka telah mengambil bagian yang banyak”. (Shahihul Jami Al Albani 6297)
Ulama Pelita dalam Kegelapan
Dalam HOME di Desember 5, 2008 pada 5:32 amUlama Pelita dalam Kegelapan
Waktu senantiasa mengikuti perjalanan umat manusia. Termasuk di dalamnya adalah umat Islam, yang kini telah sampai pada perjalanan yang demikian panjang. Hari demi hari, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, jarak antara mereka dengan zaman risalah semakin jauh. Jarak antara mereka dengan zaman keemasan umat ini telah demikian panjang, sehingga kualitas mereka dengan kualitas umat yang hidup di masa keemasan itu pun demikian jauh berbeda. Sungguh, melihat keadaan umat ini sekarang, benar-benar membuat hati pilu dan dada sesak.
Kebodohan demikian merajalela, para ulama Rabbani semakin langka, dan semakin banyaknya orang bodoh yang berambisi untuk menjadi ulama. Keadaan ini merupakan peluang besar bagi pelaku kesesatan untuk menjerumuskan umat ke dalam kebinasaan.
Dulu, di saat ilmu agama menguasai peradaban manusia dan ulama terbaik umat memandu perjalanan hidup mereka, para pelaku kesesatan dan kebatilan seolah-olah tersembunyi di balik batu yang berada di puncak gunung dalam suasana malam yang gelap gulita. Namun ketika para penjahat agama tersebut melihat peluang, mereka pun dengan sigap memanfaatkan peluang tersebut, turun dari tempat “pertapaan” mereka dan menampilkan diri seakan-akan mereka adalah para “penasihat yang terpercaya.”
Sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengobrak-abrik kekuatan dan keyakinan kaum muslimin. Mereka menggelar permainan cantik, saling mengoper kesesatan mereka. Kaum muslimin yang mayoritas kini berada dalam keterlenaan, menjadi mangsa yang empuk buat mereka. Satu demi satu sampai akhirnya menjadi banyak, gugur dalam amukan kesesatan tersebut. Para guru dengan merasa aman menggandeng tangan murid-muridnya menuju kegagalan hidup. Sementara orang tua dengan bangga melihat anaknya berjalan di tepi jurang menuju kehancuran dan kebinasaan.
